Apakah Mencium Istri Membatalkan Puasa?

Apakah Mencium Istri Membatalkan Puasa?

Jackpot hari ini Result HK 2020 – 2021.

Pertarakan di bulan Ramadhan adalah ibadah yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Agama islam, terkecuali ada udzur ataupun halangan yang menyebabkan seseorang tidak bisa berpuasa. Semacam sakit, haid (bagi perempuan), hingga berjimak.

Lalu bagaimana jika seorang suami mencium istrinya (bagian kening atau pipi), apakah dapat membatalkan puasa?

Wakil Kepala Tempat Penyelenggara Peribadatan Masjid Istiqlal, Ustadz Abu Hurairah Abdul Salam mengatakan, diperbolehkan selama tidak keluarnya air kausa dan menyebabkan batalnya ibadah puasa.

“Mencium istri saat puasa hukumnya batal jika sampai muncul mani, dan mesti mengqodo atau mengganti puasa pada hari lain, ” ujarnya kepada MNC Portal beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, akan namun jika Anda harus menqadhanya tidak harus membayar kiffarat seperti hukum orang dengan berhubungan intim di terang hari di bulan Ramadhan.

Ustadz Debu menambahkan, mencium istri zaman puasa dilarang bagi yang libido atau memiliki gairah seksualnya tinggi.

Sedangkan bagi selainnya tidak terlarang, selama sebab-sebab dengan membatalkan puasa seperti keluarnya air mani tidak berlaku.

“Patokannya dilihat apakah orangnya termasuk yang seksualnya tinggi dan gampang mengeluarkan mani atau tak. Dan tidak ada sengketa di antara para ustazah bahwa mencium istri tak membatalkan puasa selama tak keluar mani, ” tuturnya.

Baca Serupa: Bolehkah Balita Belajar Pertarakan? Ini Penjelasan Dokter

Lebih lanjut, prawacana dia, namun lebih cantik ditinggalkan agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat membatalkan ibadah puasa. Sebab hakikat pertarakan sendiri bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar, tapi juga menjaga dorongan.

Allah SWT berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ

Wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa ‘anil-hawā

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, ” (QS. Hirau Nazi’at ayat 40).

(hel)